Domo-kun Staring

Selasa, 26 November 2013

Pada bulan November ini, saya akan memposting tentang biografi orang yang menginspirasi saya. yang pertama yaitu Alfred Benhard Nobel. Ya, mungkin untuk beberapa orang, Nama Nobel sudah tidak asing, karena dialah penemu dinamit dan juga orang yang mendedikasikan kekayaannya untuk penghargaan di beberapa bidang pendidikan. berikut biografi singkat dari Nobel....




Latar Belakang

Alfred lahir pada tanggal 21 Oktober 1833 di Stockholm, Swedia. Ayahnya bernama Immanuel Nobel dan ibunya bernama Andriette Ahlsell Nobel. Ayah Alfred ialah seorang insinyur dan penemu; ia membangun jembatan, bangunan, dan mengadakan percobaan dengan bermacam cara dalam peledakan batu. Alfred memiliki dua orang kakak lelaki, yakni Robert (lahir 1829) dan Ludvig (lahir 1831).
Pada tahun yang sama saat Alfred lahir, bisnis ayahnya merugi dan ditutup. Pada tahun1837, Immanuel Nobel memutuskan untuk mengadu nasib di manapun dan pindah ke Finlandia dan Rusia. Ibu Alfred tetap tinggal di Stockholm merawat keluarganya. Ibu Alfred - yang berasal dari keluarga kaya - mulai membuka toko grosir. Dari situ ia bisa menghidupi keluarganya.

Pindah ke Rusia

Sementara itu, bisnis Imannuel Nobel di St. Petersburg, Rusia mulai menanjak. Ia telah membuka sebuah bengkel mesin yang memasok peralatan untuk prajurit Rusia. Ia juga membuat Tsar Rusia dan para jenderalnya percaya bahwa ranjau laut bisa dipakai untuk menghalau kapal musuh yang menyerang St. Petersburg. Ranjau-ranjau itu menghalau AL Kerajaan Inggris memasuki lapangan tembak St. Petersburg selama Perang Krim (1853-1856).
Karena berhasil di Rusia, kini Imannuel bisa memindahkan keluarganya ke St. Petersburg (tahun 1842). Pada tahun 1843, Andriette melahirkan putra yang diberi nama Emil. Para putra Nobel mendapat pendidikan dari guru privat. Mereka menerima berbagai pelajaran seperti ilmu alam, bahasa, dan sastra. Pada usia 17, Alfred lancar berbahasa dan menulis dalam bahasa Swedia, Rusia, Prancis,Inggris, dan Jerman.

Perjalanan ke luar negeri

Alfred sangat tertarik di bidang bahasa, kimia, dan fisika. Ayahnya menginginkannya mengikuti jejaknya dan tak menghargai bakat Alfred dalam puisi. Ia memutuskan mengirim putranya ke luar negeri untuk belajar dan menjadi insinyur kimia.
Di Paris, Alfred bekerja di laboratorium pribadi Profesor TJ Pelouze, kimiawan terkenal. Di sana ia bertemu kimiawan Italia, Ascanio Sobrero. Setelah tiga tahun pertama, Sobrero telah menemukan nitrogliserin, cairan berdaya ledak tinggi, yang dianggap terlalu berbahaya untuk digunakan.
Alfred menjadi sangat tertarik pada nitrogliserin dan penggunaannya dalam pembangunan kerja. Saat ia kembali ke Rusia setelah studinya, ia bekerja bersama ayahnya untuk mengembangkan nitrogliserin sebagai bahan peledak yang berguna secara komersial dan teknis.

Kembali ke Swedia

Setelah Perang Krim berakhir, bisnis ayah Alfred mundur dan ia memutuskan kembali ke Swedia. Kedua kakak Alfred, Robert dan Ludvig, tinggal di Rusia untuk mencoba mengelola peninggalan bisnis keluarganya. Merekapun sukses dan meneruskan mengembangkan industri minyak di selatan Rusia.
Setelah kembalinya keluarga Nobel ke Swedia 1863, Alfred memusatkan diri mengembangkan nitrogliserin sebagai bahan peledak. Sayangnya, percobaan ini menyebabkan bencana yang membunuh beberapa orang termasuk adiknya, Emil. Pemerintah Swedia memutuskan melarang percobaan ini dalam batas kota Stockholm. Alfred tak berhenti dan melanjutkan percobaannya di tongkang di atas Danau Mälaren. Pada tahun 1864, ia bisa memulai pembuatan massal nitrogliserin, tapi ia tak menghentikan percobaan dengan bermacam bahan tambahan untuk mengamankan produksi.

Penemu dinamit

Alfred menemukan--melalui percobaannya--bahwa campuran nitrogliserin dengan tanah halus Kieselguhr akan mengubah cairan menjadi pasta yang bisa dibentuk ke dalam batang, yang kemudian dimasukkan dalam lubang bor. Penemuan ini terjadi pada tahun1866. Alfred mendapatkan hak paten atas bahan ini pada tahun berikutnya. Ia menamainya dinamit. Ia juga menemukan detonator atau sumbat peledak yang bisa dinyalakan dengan cahaya sumbu.
Penemuan ini dibuat saat bor bermahkota intan dan bor angin mulai dipakai secara umum. Digunakan bersama-sama, penemuan-penemuan itu membantu mengurangi kerugian banyak pekerjaan konstruksi seperti pemboran saluran, peledakan batu, pembangunan jembatan, dan sebagainya.

Pabrik di banyak tempat

Dinamit dan sumbat detonator laku dalam industri pembangunan. Karena itu, Alfred bisa membangun pabrik di 90 tempat berbeda. Ia tinggal di Paris tapi sering bepergian ke pabrik-pabriknya di lebih dari 20 negara. Ia pernah digambarkan sebagai “pengembara terkaya Eropa”. Ia bekerja intensif di San Remo (Italia), Hamburg (Jerman), Ardeer (Skotlandia), Paris dan Sevran (Prancis), Karlskoga dan Stockholm (Swedia). Ia juga mencoba membuat karet dan kulit sintetis serta sutra tiruan. Selain itu, ia juga membuat gelatin, balistit, batu permata tiruan, dan lain-lain. Sampai kematiannya pada tahun 1896, ia telah mendapatkan 355 paten.

Bertha von Suttner

Alfred tak berkeluarga. Suatu hari, ia mengumumkan di koran untuk merekrut sekretaris. Wanita Austria-Hongaria yakni Bertha Kinsky von Chinic und Tettau mengambil pekerjaan itu. Setelah bekerja dalam waktu yang singkat, ia kembali ke Austria untuk menikah dengan Pangeran Arthur von Suttner.
Alfred dan Bertha Sophie Felicitas Baronin von Suttner menjadi kawan tetap dan berkirim surat selama bertahun-tahun. Berthapun aktif dalam pergerakan perdamaian. Ia menulis buku Buanglah Senjatamu. Saat menulis surat wasiatnya untuk menetapkan Hadiah Nobel, Alfred Nobel memasukkan hadiah untuk badan ataupun perseorangan yang memajukan perdamaian.

Pemakaian Senjata Secara Brutal dan Pencurian Penemuan

Hidup Alfred Nobel bisa dibilang sangat banyak rintangan. Pada saat ia meneliti di Paris bersama salah satu anak muda bernama Fehrenbach. Pada saat itu Nobel baru saja mengenalkan penemuan barunya, Serbuk Tanpa Asap. Namun, seorang yang mengaku dirinya Poltasia menanyakan bagaimana membuatnya. Maka, walau Nobel sadar itu adalah penggila perang yang akan menggunakan itu sembarangan, dia memberitahu cara membuatnya. Tapi, saat Poltasia itu hendak pergi, di depan rumah Nobel sudah ada polisi yang "sebenarnya" dan yang menyakitkan, para penggila perang yang lain mencoba untuk membuatnya dan menggunakannya secara brutal. Nobel marah karena barang temuannya tidak digunakan untuk perdamaian. Setelah mengalami itu, hal mengerikan kembali terjadi. Nobel dituduh menjiplak Serbuk Tanpa Asap milik orang lain. Nobel di penjara 2 bulan dan pabrik Nobel yang memproduksi Serbuk Tanpa Asap ditutup. Setelah Nobel keluar dari penjara, dia memutuskan untuk meneliti di San Remo. Nobel menghawatirkan Fehrenbach saat di San Remo. Lagi-lagi, badai datang ke kehidupan Nobel. Nobel membentuk sebuah Komite bernama Komite Serbuk Mesiu. Salah satu anggotanya adalah penemu asal Inggris, James Dewar, penemu botol vakum. Nobel selalu mengumumkan temuannya ke Komite. Maka, karena James adalah anggota komite, dia tahu cara membuat Serbuk Tanpa Asap. Maka, James menghianati teman dekatnya sendiri dengan membuat Serbuk Tanpa Asap yang dipatenkan dengan nama Cordite. Nobel yang menderita penyakit pengerasan arteri terguncang dan memutuskan untuk jalan-jalan di pantai.

Kematian dan Hadiah Nobel

Alfred meninggal di San Remo, Italia pada 10 Desember 1896. Dalam surat wasiat dan testamen terakhirnya, ia menulis bahwa banyak dari kekayaannya bisa dipakai memberi hadiah kepada yang telah melakukana komite, usaha kemanusiaan di bidang fisika, kimia, sastra, perdamaian, fisiologi dan obat-obatan.
Tak semua orang menyukai hal ini. Surat wasiatnya ditentang sanaknya dan dipersoalkan pihak berwenang di sejumlah negara, dan memakan empat tahun bagi pengawasnya meyakinkan semua pihak untuk memenuhi harapan Alfred.
Pada tahun 1901, hadiah pertama Nobel dalam fisika, kimia, sastra, fisiologi dan obat-obatan dibagikan di Stockholm, Swedia dan Hadiah Nobel Perdamaian di Kristiania (sekarang Oslo), Norwegia. 

Pelajaran yang dapat saya ambil dari kisah hidup Alfred Benhard Nobel:
  • walaupun ia penemu dinamit, tapi bukan berarti ia menginginkan perang namun itu tuntutan dalam pekerjaan, dalam pembuatan dinamit ia tetap menulis surat perdamaian bagi dunia bahkan mendedikasikan kekayaannya bagi hadiah Nobel, perdamaian dunia. 


Kamis, 31 Oktober 2013

Petugas Penurunan Bendera di Istana Negara 2013



Upacara Penurunan Bendera Sang Merah Putih di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (17/8/2012) berlangsung khidmat. Seluruh peserta undangan tampak khidmat mengikuti upacara yang dikomandani oleh Kolonel Laut Agoeng Mohammad Kancana S.

Upacara penurunan bendera dimulai pada pukul 17.00. Upacara ini diikuti Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Ibu Negara Ani Yudhoyono, Wakil Presiden Boediono, Ibu Herawati Boediono, ketua lembaga negara, jajaran anggota Kabinet Indonesia Bersatu II, anggota Parlemen, perwakilan TNI dan Polri, perintis kemerdekaan, warakawuri, keluarga pahlawan nasional, para angkatan 1945, perwakilan organisasi kemasyarakatan, partai politik, pelajar, dan pramuka.


Pengibaran bendera Merah Putih dilakukan oleh 66 anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka yang berasal dari 33 provinsi, dan dikomandani Kapten PNB Supardo S BUtarbutar.
Petugas pembawa baki pada upacara penurunan bendera adalah Delin Nova Liani, siswa kelahiran Payakumbuh, 20 November 1996 dari SMAN 2 Payakumbuh, Sumatera Barat. Sementara itu, bertindak sebagai pembentang bendera adalah Fauzi Prawira Karva, siswa kelahiran Kemangan, 7 Oktober 1995 dari SMAN 1 Sintang. Adi Wahyu Nurhidayat, siswa kelahiran Tangerang, 14 November 1996 asal SMAN 1 Tangerang bertindak sebagai pengerek Tim Putih, dan Alfraim Adven, siswa kelahiran Palangkaraya, 19 Januari 1997.

 


 


  

Nama Petugas Penaikan Bendera di Istana Negara 2013



Upacara peringatan HUT ke-68 Kemerdekaan RI di Istana Merdeka, Jakarta, berlangsung mulai pukul 09.45 WIB. Seluruh petugas pun bekerja sama agar upacara peringatan tersebut berjalan lancar dan tertib.



Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bertugas sebagai pemimpin upacara. Sedangkan petugas lain berasal dari kalangan pelajar, TNI, kepolisian, hingga pejabat negara. Mereka di antaranya:

1. Kolonel Pnb (Penerbang) Ronald Lucas Siregar sebagai komandan upacara Komandan Upacara.
2. Puluhan pelajar dari 33 provinsi di Indonesia bertugas sebagai Pasukan Pengibar Bendera Pusaka. Mereka tergabung dalam Tim Permata.
3. Moh Rayhan Akbar, pelajar dari Jawa Barat sebagai pengerek bendera.
4. Gilbert Karamoy, pelajar dari Sulawesi Utara sebagai pembentang bendera.
5. Adelena Tesalonika, pelajar dari Sulawesi Tenggara sebagai pembawa baki.
6. Ketua DPD Irman Gusman sebagai pembaca naskah Proklamasi.
7. Menteri Agama Suryadharma Ali sebagai pembaca doa.

Hingga akhirnya, sekitar pukul 10.30, Merah Putih berkibar di halaman depan Istana Negara. Lagu Indonesia Raya pun mengiringi pengibaran Sang Saka Merah Putih kebanggaan bangsa.